Arsip

Archive for the ‘Sastra dan Budaya’ Category

Kajian tembang Gundul Gundul Pacul ..!?

Lagu ” Gundul Gundul Pacul mempunyai filosofi yang dalam……..

Gundul gundul paculcul , gembelengan
Nyunggi nyunggi wakulkul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…

Gundul adalah kepala plonthos tanpa rambut dan kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang, rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota, sedangkan pacul adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mennyangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Baca selanjutnya…

Iklan

Kajian tembang Cublak Cublak Suweng !?

Cublak cublak suweng

Suwenge tinggelenter

Mambu ketundung gudhel

Pak empong lera lere

Sopo ngunyu ndelek ake

Sir, sirpong dele kopong

Sir, sirpong dele kopong

Sopo ngguyu ndelek ake,…

Mungkin arti lagu tersebut adalah seperti ini :

cublak cublak suweng……
kata “cublak” adalah sebuah kata kebiasan atau idium yang digunakan untuk sebuah permainan saling tebak, sedang kata suweng artinya adalah hiasan telinga (bukan anting anting atau giwang) (ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting”

Suwenge tinggelenter………..
Seperti diatas suweng artinya adalah sebuah informasi yang penting, tinggelenter artinya adalah banyak tersebar berserakan… jadi kalo digabungkan kedua kata tersebut ditemukan arti : “informasi penting (ini) (sebenarnya) tersebar disegala tempat.” Baca selanjutnya…

Kajian tembang Sluku Sluku Bathok !?

Sluku-sluku bathok

Bathoke ela-elo

Si Rama menyang Sala

Oleh-olehe payung motha

Mak jenthit lolo lobah

Wong mati ora obah

Nek obah medeni bocah

Nek urip goleka dhuwit.

Begitulah bunyi atau syair yang terdapat lagu “SLUKU-SLUKU BATHOK” kalo di lihat dari syairnya secara kata per kata hanya sekedar guyonan atau cuma kata-kata yang sering dijumpai di kehidupan sehari-hari, akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya terdapat suatu ajaran yang sangat dalam sebagai petunjuk bagi kita semua untuk selalu ingat kepada yang Maha Kuasa (Allah SWT). Berikut ini artikel tentang makna yang terkandung di dalam lagu Sluku-Sluku Bathok seperti berikut ini: Baca selanjutnya…

Kajian tembang Lir ilir …. !?

Lir ilir lir ilir tandure woh sumilir

Tak ijo royo royo

Tak sengguh penganten anyar

Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir

Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore

Mumpung padang rembulane

Mumpung jembar kalangane

Yo surak’0 surak hiyo….

Makna yang terkandung lagu di atas adalah sbb :

Lir-ilir, Lir-ilir…  (Bangunlah, bangunlah)
Tandure woh sumilir…  (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo…  (Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar…  (Bagaikan pengantin baru)

Makna: Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan Tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru. Baca selanjutnya…

Semar … !?

Dikalangan spiritual jawa sosok  Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Ilahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

– Bebadra = Membangun sarana dari dasar
– Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan

Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakansimbul Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel =keteguhan jiwa, Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ), yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parang kusumo rojo : perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia), agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi

Ciri sosok semar adalah

* Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua.
* Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan.
* Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa.
* Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok.
*Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya.

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas, dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . Semar ( pralambang ngelmu gaib ) – kasampurnaning pati.

Gambar Semar kaligrafi jawa tersebut bermakna :

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika – artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Jalmo Menungso …. !!??

Kang gumelar ana ing ngarepmu iku rupa kitab

rupa crita bab jagad  bab kowe kelawan aku  bab kawula kelawan Gusti

Nyawanga… Ilining banyu  –  Miliring angin – Urubing geni

Nyawanga… Abure peksi – kelike wulung

Kepake pitik – kluruke sawung – Kedepe kartika – abure mega

Kabeh pada nyarita nganggo ukarane dewe-dewe

Tetesing bun kang nyarita bab uleging samudra

Pletiking latu kang nyarita bab gebyaring Baskara

Kabeh kuwi rupa Sastra Jendra ….  Kabeh kuwi rupa Sastra Jendra

Yen siro bisa mangerteni  unening sandhi kang ana swalike gatra

rupa basa kang tanpa ukara  siro pranyata dipalilahi

ngawuningani Kasunyatan ing Jagad iki.

Yen sliramu ngunandika bab rasa pangrasa

tamtu mbok woco tanpa tembung.

Sabab awit ing kana  tan ana basa kang bisa gadug mbabarake isining  ati

Mangkonoa uga Sang Jagat Nata

denya ndedongeng – wewuruk lan wewarah

sadengah rupa – apa bae – sakabehane

kawedar ake tanpa ukara

Awit meneng kuwi dudu bisu…  meneng kuwi dudu bisu

Sanadyan ana sawiji wiji ing sawenehing pitakonmu

wus cumepak wangsulane ma ewu ewu

nanging ora maido yen durung  ka babar

Jer ora sadengah pawongan gadug

mangerteni tetembung  “nyata ing kalimput” kang kinira wadi.

Hakikat Sastra Jendra Hayuningrat

Pencarian hakikat hidup dalam sastra jendra hayuningrat

Aku adalah kebijaksanaan tertinggi yang memahami sesuatu dari segala sisi, aku memahami kebaikan dari keburukan dan keburukan dari kebaikan , aku melihat yang tampak dari yang tersembunyi dan melihat yang tersembunyi pada apa yang tampak, kebijaksanaanku melihat segala sesuatu sedang berjalan ke arah kebaikan, aku terbebas dari penilaian baik dan buruk karena aku adalah kesempurnaan dalam kebaikan dan keburukan, aku menyinari kegelapan membasahi yang kering mengeringkan yang basah, aku mengisi yang kosong memberi yang meminta melepaskan yang terikat..

Kesejatian dan kebenaranku bukanlah sekadar tubuh yang kelak akan ku tinggalkan setelah kematian, kau bukan pula pikiran yang sering terjebak dalam ketidak tahuannya, kau adalah kecerdasan tak terbatas yang terkunci dalam pikiran yang terbatas, kau adalah yang selalu hidup dan yang pergi saat kematian tetapi kau sendiri tidak pernah mati…

aku adalah sebuah ketiadaan, tanpa awal dan tanpa akhir, berjalan diantara keabadian semu dan terpaku nanar dilembah lembah kesunyian, sajakku bergumam disela sela pencarian akan hakikat hidup, aku adalah kekosongan sekaligus yang mengisi kekosongan semesta raya , aku mewujudkan diriku sebagai bagian yang tak termiliki., kita tak pernah menanamkan apa apa dan takkan pernah mendapatkan apa apa, aku adalah sastra jendra yang mencari air kehidupan dan setelah semuanya usai aku akan kembali kedalam kedamaian dipelukan sang pencipta yang tiada awal dan tiada akhir… Ia berisi kebenaran yang mengalir dari Pikiran Atas Sadar

Yang Hidup Selalu Hidup  ..  Yang mati Tak Pernah Hidup ..  maka Sesungguhnya Tak Pernah Ada Kematian, Ada kesempurnaan didalam kealamian semesta

Saat kesadaran terjaga , alam semesta mendengar dan jiwa kosong berbicara…. Kau adalah entitas kesadaran agungku yang terjebak dalam semesta kecil tubuh dan pikiran manusia.. kau adalah diri kecil KU yang sedang bertumbuh untuk bisa mengingat hakikat diriku yang besar… Kau adalah alam semesta yang sedang belajar memahami dirinya sendiri… Kau adalah yang yang memberi tanpa harus meminta.. Kau adalah yang terlibat tanpa mesti terikat… Kau adalah pemilih yang tidak terjebak oleh penilaian atas setiap pilihanmu… Kau adalah kesadaran tak terbatas dalam tubuh yang terbatas… Kau adalah kecerdasan tak terbatas yang terkunci dalam pikiran yang terbatas …

Belajar dari awan….. sudah saatnya menyadari sejauh mana kita kini berada, apakah baru mulai menguap menuju setiap langit agar tamjpak sebagai kesuksesan dari bumi..ataukah masih terombang ambing dalam gerakan dualitas tinggi – rendahnya pemahaman.. mungkin juga tanpa sadar kita bahkan telah memilih menjadi bagian dari kegelapan mendung yang hadir di bumi menciptakan badai dan kehancuran bagi kehidupan…dengan labilnya pemahaman akan kesadaran jiwa kita justru akan menciptakan perdebatan, menyulutkan api kemarahan dan menggelegarkan gemuruh suara suara gusar yang menggiring dunia pada air mata kehancuran…hidup bukanlah pilihan,bukan pula sbuah tujuan namun sbuah persinggahan untuk mencapai kesempurnaan dgn melalui ilusi rintangan nyata yg blindung dibalik tirai duniawi yg bgitu halus.

Manusia bukanlah makhluk hidup yang sedang berjuang menuju cahaya melainkan makhluk cahaya yang sedang berada dalam tubuh manusia..untuk hidup dan menjalani peran keduniawiannya..

jika tuhan pun tidak lagi kuyakini, lalu siapa lagi yang bisa kupercaya dan kuyakini ?? bukankah tubuh manusia adalah kitab suci tertua yang ditulis sendiri oleh shang pencipta ?? manusia tak lain adalah alam semesta yang sedang memahami dirinya sendiri…

hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya ” tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar ‘terimalah dan hadapilah..aku kamu dan kalian adalah sebuah kebodohan yang tercipta..terlahir untuk tercerai berai terpendam…terhempas dan terhenyak, kita adalah tiada dan kembali dalam sebuah ketiadaan ”…..