Beranda > Sastra dan Budaya > Kajian tembang Gundul Gundul Pacul ..!?

Kajian tembang Gundul Gundul Pacul ..!?

Lagu ” Gundul Gundul Pacul mempunyai filosofi yang dalam……..

Gundul gundul paculcul , gembelengan
Nyunggi nyunggi wakulkul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…

Gundul adalah kepala plonthos tanpa rambut dan kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang, rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota, sedangkan pacul adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mennyangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).Artinya bahwa kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

Mata digunakanuntuk melihat kesulitan rakyat.

Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.

Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.

Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat dia malah menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya, menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga di antara manusia dia menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya.

Nyunggi wakul, gembelengan , Nyunggi wakul artinya membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya, Wakul adalah simbol kesejahteraan rakyat, kekayaan negara,sumberdaya, pajak adalah isinya artinya bahwa kepala yang dia anggap kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat kedudukannya di bawah bakul rakyat siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul? Tentu saja pemilik bakul pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya.

Dan banyak pemimpin yang masih gembelengan (melenggak lenggokkan kepala
dengan sombong dan bermain-main) akibatnya, Wakul ngglimpang segane dadi sak latar ( Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana ).

Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana dia tak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana, Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat…

Artikel ini diambil dari berbagai sumber dan melalui beberapa editing, apabila ada kesalahan  mohon maaf yang sebesar-besarnya saya manusia yang ta’ luput dari salah & dosa.

Salam,… Dipo Samudro – Bahr Al Qudra,…

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: