Beranda > Iblis > Wahai Iblis ada apa denganmu …!?

Wahai Iblis ada apa denganmu …!?

Anugerah tertinggi sang kekasih bagi sang pencinta rasa damai tidak bisa diperoleh oleh hati yang masih membenci,kendati ditujukan kepada iblis atau syetan, demikianlah seorang sufi wanita Rabi’ah Al Adawiyah tidak menyisakan ruang di dalam hatinya untuk membenci setan., hakikat iblis… Iblis bukanlah makhluk yang patut dibenci, Al-Hallaj mengakui bahwa iblis adalah figur sang pencinta sejati, seorang martyr, ia adalah sang mursyid bagi para malaikat-Nya.. Iblis adalah sosok “ perfect servant ” bagi para pencinta Kebenaran , kecintaan mutlaknya kepada yang maha pencipta alam semesta, tidak diragukan lagi.. ujian penderitaan dari sang kekasih diterimanya “ without question or complaint ” atau tanpa bertanya dan  menentang .

Hazrat Sarmad menganjurkan manusia agar berguru Tauhid Murni kepada iblis. Ahmad al-Ghazali (adik Imam Ghazali) menilai bahwa manusia yang tidak tahu hakikat iblis, masih belum beriman, cenderung terperosok menduakan Allah.

Dialog antara Gusti Allah dan iblis ,di dalam kitab suci sangat simbolik. Sebetulnya Gusti sedang mengajari kaum Adam dan para malaikat tentang ” devosi ” adalah suatu sikap bakti yang berupa penyerahan  tertinggi kepada-Nya, melalui tindakan iblis di dalam Al Qur’an dikatakan iblis termasuk golongan jin, menurut makna jin disini dalam pengertian “ asing ” bagi komunitas malaikat, yang artinya berasal dari ras yang lain.

Ia bernama Azazil dan selanjutnya hidup di kalangan malaikat, Ia berdevosi kepada Allah ribuan tahun lamanya hingga derajat kerohaniannya mencapai “Arcangel”, atau derajat malaikat agung, dalam khazanah Jawa dan Sufi, sesungguhnya malaikat merupakan makhluk yang memiliki kesadaran rohani yang tinggi dan berwujud cahaya, ketika Allah memerintahkan para malaikat bersungkur sujud di hadapan Adam ( simbol umat manusia ) mereka semua bersujud, kecuali Azazil..

Maka terjadi dialog antara Allah dengan Azazil seperti diterangkan dalam kitab at-Tawasin karya besar Mansur al-Hallaj:

Gusti bertanya pada Azazil,  ” Mengapa kau enggan bersujud pada Adam ? ”,

Azazil menjawab,  ” Tiada yang patut kuagungkan selain Diri-Mu ”.

Gusti bertanya balik,  ”  Kendati kau akan menerima kutukan-Ku ?  ”.

Azazil menjawab, ”  Tidak mengapa, karena hasrat hatiku tak sudi condong pada yang lain selain Diri-Mu  …

Kemudian Azazil bersyair: “ Kendati Kau membakarku dengan Api Suci-Mu yang menyala-nyala untuk selamanya , aku tak akan pernah sudi tunduk pada kesadaran ego (manusiawi) pernyataanku berasal dari hati yang tulus dalam Cinta aku berjaya, bagaimana tidak ?”

Azazil melanjutkan syairnya: “Sesungguhnya tiada jarak yang memisahkan Dikau denganku ketika tujuan tercapai kedekatan dan jarak adalah satu kendati aku ditinggal derita keadaan itu akan menjadi karibku jika Kasih itu satu, bagaimana kita bisa berpisah? dalam kemurnian yang mutlak, Diri-Mu kuagungkan bagi seorang hamba dengan hati yang benar bagaimana dia menyembah sesuatu selain Dikau ?”

Ribuan kali, Yang Maha Mengetahui memerintahkan Azazil bersujud, bow down!  atau Sujud ..!! , tetapi dia tetap enggan,..

lalu ia bersyair: “Duh Gusti, segala sesuatu termasuk diriku ini adalah milik-Mu Kau telah memberikan ku pilihan namun Kau telah menentukan pilihan-Mu bagiku jika Engkau melarangku dari bersujud, Kau adalah Pelarang jika aku salah paham, jangan Kau tinggalkan daku jika Kau menginginkanku bersujud dihadapannya, hamba patuh namun tak seorangpun lebih mengetahui tentang Maksud-Mu selain Nuraniku ini”..

Atas penolakannya, Yang Maha Pengasih menganugerahkan “A highest gift” pada Azazil berupa kutukan dan penderitaan.. dengan pasrah, tanpa bertanya lagi, tanpa mengeluh, ia menerima Anugerah-Nya yang tertinggi, sekaligus terberat.

Sang kekasih bertanya, ”  Tidakkah kau menolak Anugerah-Ku ?  ”

Azazil, sang pencinta sejati menjawab, ” Dalam Cinta di sana ada penderitaan di sana pula ada kesetiaan dengan begitu, seorang pencinta menjadi sepenuhnya matang berkat kelembutan dan keadilan sang kekasih ”

Claim Azazil yang mengatakan bahwa ia terbuat dari api dan Adam dari tanah, sehingga ia enggan bersujud, sangat simbolik. seorang Azazil dengan “ Divine Consciousness ”-nya mustahil mempermasalahkan hal-hal fisik jasadi semacam itu melalui cermin Azazil,

Sebenarnya ” Yang Maha Mengetahui sedang mengajarkan manusia tentang bahaya ego dan kesombongan akibat kesadaran rendah “, di sisi lain Dia mengajari para malaikat tentang devosi murni model Azazil, di sisi lain lagi, melalui para malaikat, Dia mengajarkan kesalehan pada manusia. Alhasil, sesungguhnya iblis merupakan Guru yang mengajarkan kesalehan pada para malaikat dan para malaikat mengajarkan kesalehan itu pada manusia.

Pada saat yang sama, iblis mempertunjuk kan jalan keburukan pada manusia, agar manusia menghindarinya, tammpak bertentangan..  ibarat kain bagus yang ditenun di atas bahan kasar (afine garment is woven on a coarse,black backing).. dengan kata lain, “  whoever does not know vice will not know virtue! ”  – ” barang siapa tidak mengenal keburukan maka tidak mengenal kebajikan “. Inilah menurut Al-Hallaj “ opposite science ” atau sbaliknya Ilmu..  .

Lelucon Ilahi ini penuh makna, ibarat masquerade atau  penyamaran… bersujud kepada Adam bukanlah perintah (a command) melainkan ujian (a test).

Iblis mengetahui hal ini melalui bisikan-Nya lewat Nuraninya. Al-Hallaj mengakui iblis sebagai monoteis sejati, begitu pula “ Muhammad ”, simbolik bagi para Nabi, Kristus, Avatar, Buddha, Wali… mereka adalah perangkat Ilahi… sebagaimana iblis,

Nabi Muhammad pernah mengalami test serupa, Beliau diperintahkan-Nya, ” Lihatlah ” Beliau tidak bergeming, tidak berputar ke kanan, tidak pula ke kiri ( beliau tahu bahwa Dia bersemayam di Dalam Diri ).

” Jangan mengkambing hitamkan iblis atas perilaku buruk kita manusia benar-benar mandiri dan bertanggung jawab sendiri untuk memilih jalan yang baik atau buruk “.

Baik (good) dan buruk (evil) hanyalah refleksi Kebenaran (Truth). Dan Gusti Allah di atas baik dan buruk, di atas cahaya dan kegelapan.. Nur ‘ala nur, Allah itu Cahaya di atas cahaya

Renungkan syair Azazil berikut:

“Duh Gusti, Kau membebaskanku karena selubungku terbuka Kau membuka selubungku karena KeesaanKu membuatku satu dengan-Mu dari perpisahan demi Keberadaan-Mu Yang Nyata aku tak bersalah telah bersekongkol dalam kejahatan tidak pula menolak nasibku tidak pula gelisah dengan perubahan yang kualami dan aku bukanlah orang yang membentang-kan di hadapan manusia jalan kesesatan !”

Semoga dapat menyejukkan kalbu, mendamaikan hati, sehingga hati kita hanya terisi dengan Cinta Kasih, dan serta merta dunia pun akan damai ! Kebenaran hanyalah Milik Dia Yang Maha Benar Dan Maha Mengetahui.

Salam …,  Dipo Samudro – Bahr Al Qudrah…

Kategori:Iblis
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: